Rabu, 03 Juni 2009

Kapan Optimisme tidak diperlukan... ?

Kalau melihat praktek hidup, tidak semua optimisme itu baik. Tidak semua optimisme itu kita perlukan. Ada bentuk-bentuk keoptimisan yang memang perlu kita jauhi.......antara lain :

Pertama, Terlalu optimis. Kata Imam Ghazali, semua yang serba terlalu itu akan memantulkan kebalikannya. Optimis itu jelas bagus tetapi terlalu optimis itu tidak bagus. Terlalu optimis artinya kita punya harapan yang berlebihan akan adanya kebaikan hari esok dan mengabaikan hal-hal yang berpotensi menimbulkan keburukan.

Kedua, Optimis tanpa dasar dan alasan. Seperti yang sudah kita bahas di muka, salah satu syarat mendasar untuk menjadi orang yang optimis adalah memiliki sasaran. Sasaran inipun tidak sembarang, tetapi sasaran yang sudah kita pertimbangkan denagn akal sehat. Sasaran ini bukan fantasi atau khayalan yang dasarnya hanya mood sesaat. Kalau kita tidak memiliki sasaran yang jelas tetapi kita memaksakan diri untuk optimis, ini bisa jadi kita mencoba berpura-pura optimis.

Ketiga, Optimis hanya untuk tujuan optimis. Optimisme itu adalah jalan hidup, bukan tujuan hidup. Jalan hidup disini maksudnya alat yang perlu kita gunakan dalam menjalani hidup ini. Tujuannya apa kita optimis? Dengan optimis, kita punya dorongan yang kuat untuk melakukan hal-hal yang positif agar tidak mudah dikalahkan oleh kebrutalan kenyataan hidup ini. Bila tujuan itu tidak tercapai maka optimisme yang kita miliki adalah optimisme yang hanya untuk optimisme.

Meski secara teori semua orang sudah tahu perbedaan antara jalan dan tujuan ini, tetapi dalam prakteknya belum tentu. Banyak orang yang lupa membedakan antara jalan dan tujuan dalam praktek. Banyak orang melupakan alat dan tujuan dalam praktek. Abraham Maslow pernah mengeluarkan nasehat bahwa salah satu yang penting untuk diingat bagi siapapun yang ingin mengaktualisasikan potensinya adalah membedakan antara jalan dan tujuan ini dalam praktek hidup. Semoga ini selalu bisa kita ingat. " harumi ".

Tidak ada komentar: